Bagi sebagian orang tua dan guru, keberadaan ranking atau peringkat kelas dalam rapor pernah menjadi hal yang sangat penting. Ranking dianggap sebagai tolok ukur keberhasilan belajar siswa dan menjadi kebanggaan tersendiri bagi mereka yang berhasil menduduki posisi teratas. Namun, sejak diberlakukannya Kurikulum 2013 (K-13) hingga saat ini dalam Kurikulum Merdeka, kolom ranking tidak lagi dicantumkan dalam rapor siswa.
Lalu, mengapa ranking dihilangkan? Apakah kebijakan ini hanya mengikuti tren pendidikan negara lain, atau ada pertimbangan khusus dalam dunia pendidikan Indonesia?
Perubahan Paradigma Penilaian
Sebelum Kurikulum 2013 diterapkan, penilaian hasil belajar lebih banyak berfokus pada aspek akademik yang diukur melalui angka. Dari nilai-nilai tersebut kemudian disusun peringkat siswa dari yang tertinggi hingga terendah.
Ketika Kurikulum 2013 mulai diterapkan, pemerintah memperkenalkan konsep penilaian yang lebih komprehensif. Siswa tidak hanya dinilai dari kemampuan mengerjakan soal, tetapi juga dari aspek keterampilan, sikap, karakter, kreativitas, dan kemampuan bekerja sama. Dengan demikian, keberhasilan siswa tidak lagi dapat digambarkan hanya melalui satu angka atau satu posisi dalam peringkat kelas.
Fokus pada Kompetensi, Bukan Kompetisi
Salah satu tujuan utama penghapusan ranking adalah mengubah orientasi pembelajaran dari kompetisi menuju pengembangan kompetensi. Dalam sistem ranking, perhatian siswa sering kali terfokus pada posisi dibandingkan teman-temannya. Akibatnya, proses belajar terkadang hanya menjadi sarana untuk mengejar nilai dan peringkat.
Melalui Kurikulum 2013 dan kemudian Kurikulum Merdeka, pemerintah berupaya mendorong siswa untuk bersaing dengan dirinya sendiri, yaitu terus meningkatkan kemampuan dan prestasi pribadi dari waktu ke waktu. Dengan demikian, setiap siswa dihargai berdasarkan perkembangan yang dicapainya, bukan semata-mata berdasarkan urutan nilai di kelas.
Menghargai Keunikan Setiap Siswa
Setiap anak memiliki bakat dan potensi yang berbeda. Ada siswa yang unggul dalam matematika, ada yang berbakat dalam seni, olahraga, kepemimpinan, atau keterampilan sosial. Sistem ranking sering kali hanya menonjolkan siswa yang memiliki nilai akademik tinggi, sementara potensi lain kurang mendapat perhatian.
Kurikulum Merdeka semakin menegaskan pentingnya pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Oleh karena itu, rapor lebih menekankan deskripsi capaian pembelajaran dan perkembangan kompetensi siswa daripada sekadar menunjukkan posisi mereka dibandingkan teman-temannya.
Apakah Meniru Sistem Pendidikan Negara Lain?
Kebijakan ini memang memiliki kesamaan dengan praktik pendidikan di sejumlah negara maju seperti Finlandia, Kanada, dan Selandia Baru yang tidak menjadikan ranking sebagai fokus utama dalam laporan hasil belajar siswa.
Namun demikian, penghapusan ranking di Indonesia bukan sekadar meniru negara lain. Kebijakan tersebut lahir dari kebutuhan untuk menciptakan sistem pendidikan yang lebih adil, manusiawi, dan mampu mengembangkan seluruh potensi peserta didik sesuai tujuan pendidikan nasional.
Apakah Ranking Benar-Benar Hilang?
Meskipun tidak dicantumkan dalam rapor, bukan berarti sekolah tidak dapat mengetahui urutan prestasi akademik siswa. Dalam beberapa keperluan tertentu, seperti pemilihan peserta lomba, pemberian penghargaan akademik, atau seleksi khusus, sekolah tetap dapat mengolah data nilai untuk menentukan siswa dengan capaian terbaik.
Dengan kata lain, yang dihilangkan adalah penyajian ranking dalam rapor, bukan kemampuan sekolah untuk melakukan pemetaan prestasi siswa.
Penutup
Hilangnya ranking dari rapor sejak Kurikulum 2013 hingga Kurikulum Merdeka merupakan bagian dari perubahan cara pandang terhadap pendidikan. Jika dahulu keberhasilan siswa sering diukur dari posisi mereka di dalam kelas, kini fokusnya bergeser pada sejauh mana siswa berkembang, memahami materi, membangun karakter, dan mengoptimalkan potensi yang dimilikinya.
Melalui pendekatan ini, diharapkan setiap anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, berkarakter, dan mampu berkembang sesuai bakat serta minatnya masing-masing. Pendidikan tidak lagi hanya mencari siapa yang paling unggul, tetapi juga memastikan setiap peserta didik memperoleh kesempatan untuk mencapai versi terbaik dari dirinya.
