Solusi Agar Anak tidak tumbuh jadi budak atau pesuruh
tidak ada yang salah jika kita atau anak kita kelak menjadi seorang karyawan, pegawai, buruh, atau pun hal lain sejenisnya karena memang tidak mungkin semua manusia jadi pimpinan, bos, investor, CEO, dan semacamnya. namun sebagai orang tua atau pendidik, kita tetap bisa memasukkan prinsip-prinsip pedagogi kritis dan kemerdekaan berpikir di rumah, bahkan jika anak masih menempuh jalur sekolah formal. Tujuannya adalah memberikan "penawar racun" agar anak tidak tumbuh menjadi robot yang hanya patuh pada sistem.
Berikut adalah beberapa cara praktis untuk menerapkannya
dalam kehidupan sehari-hari:
1. Ubah Gaya Bertanya (Terapkan Problem-Posing)
Di sekolah, anak terbiasa menjawab pertanyaan yang hanya
punya satu jawaban benar (sistem menghafal). Di rumah, ajak mereka melihat
realitas dengan pertanyaan terbuka yang melatih nalar kritis.
- Jangan
hanya tanya: "Dapat nilai berapa tadi di sekolah?"
atau "Sudah hafal bab ini belum?"
- Coba
tanya: "Tadi di sekolah ada aturan yang menurutmu aneh atau
enggak adil enggak? Kenapa?" atau "Menurutmu, kenapa ya
di lampu merah tadi banyak anak kecil yang jualan koran bukannya
sekolah?"
- Tujuannya:
Melatih anak untuk tidak menelan mentah-mentah realitas, melainkan mulai
menganalisis struktur sosial di sekitarnya.
2. Dekonstruksi Fungsi Nilai dan Nilai Merah/rendah
Sekolah kapitalis mengajarkan bahwa nilai akademis adalah
penentu harga diri dan masa depan seseorang. Tugas orang tua di rumah adalah
memutus narasi kecemasan ini.
- Jika
anak mendapat nilai buruk, jangan dihukum atau dimarahi. Katakan: "Nilai
ini cuma peta kecil yang menunjukkan bab mana yang belum kamu pahami,
bukan ukuran kecerdasan atau kebaikan dirimu."
- Jika
anak mendapat nilai bagus, jangan dipuji berlebihan seolah nilai adalah
segalanya. Fokuslah pada prosesnya: "Ibu senang melihat kamu
penasaran dan berusaha keras kemarin, bukan cuma karena angka 100
ini."
3. Berikan Ruang Otonomi Nyata di Rumah (Demokratisasi
Keluarga)
Anak-anak menghabiskan waktu di sekolah dengan diperintah:
kapan harus duduk, kapan boleh bicara, kapan boleh ke toilet. Di rumah,
kembalikan kedaulatan mereka.
- Libatkan
dalam Keputusan: Ajak anak berdiskusi saat menentukan menu makanan
mingguan, pembagian tugas membersihkan rumah, atau tujuan liburan.
- Hargai
Argumen Mereka: Jika anak menolak melakukan sesuatu, dengarkan
alasannya. Jangan gunakan tameng "Karena kamu anak kecil dan
Ibu/Ayah bilang begitu!" (Ini adalah pola asuh otoriter yang
melatih anak tunduk pada bos di masa depan). Jika argumen mereka logis,
negosiasikan jalan tengah.
4. Fasilitasi Interest-Led Learning (Belajar
Berbasis Minat) di Akhir Pekan
Gunakan waktu luang untuk menerapkan prinsip unschooling.
Biarkan anak memegang kendali penuh atas apa yang ingin mereka pelajari tanpa
intervensi kurikulum.
- Jika
anak sedang fanatik dengan dinosaurus, ruang angkasa, atau pemrograman game,
dukung total. Belikan buku, tonton dokumenter bersama, atau ajak ke
museum/bengkel terkait.
- Jangan
paksa ada target atau ujian setelahnya. Biarkan mereka belajar murni
karena rasa ingin tahu (curiosity), bukan karena takut dihukum atau
demi mengejar sertifikat.
5. Ajarkan Literasi Keuangan Riil dan "Kecerdasan
Jalanan"
Sekolah melatih anak menjadi pekerja yang menukar waktu
dengan uang. Di rumah, ajarkan mereka cara kerja sistem ekonomi yang
sebenarnya.
- Ajak
mereka berbelanja dan hitung nilai barang, ajarkan konsep dasar menabung,
investasi sederhana, atau bagaimana sebuah bisnis mendapatkan keuntungan.
- Jika
mereka membuat kesalahan (misal: merusakkan mainan karena ceroboh), jangan
langsung diganti. Ajak mereka berpikir bagaimana cara memperbaikinya atau
mengumpulkan uang saku untuk membelinya lagi. Ini melatih kemandirian dan
mental pemecah masalah (problem solver).
Prinsip Utamanya:
Rumah harus menjadi tempat yang aman untuk membuat
kesalahan dan bebas dari standarisasi. Dengan begitu, sekolah formal
hanya akan menjadi tempat mereka mencari "legalitas" (ijazah),
sementara karakter, kedalaman berpikir, dan kemerdekaan jiwa mereka tetap
terbentuk di rumah.
Mengapa Tahun Baru Hijriyah Menjadi Tahun Baru yang Cenderung Terlupakan dan Sepi Dibandingkan Tahun Baru Masehi?
Setiap tahun, umat Islam memasuki pergantian tahun dalam kalender Hijriyah pada tanggal 1 Muharram. Secara historis dan spiritual, momen ini memiliki makna yang sangat penting karena menandai awal kalender Islam yang dihitung sejak peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Namun, jika dibandingkan dengan perayaan Tahun Baru Masehi yang jatuh pada 1 Januari, suasana Tahun Baru Hijriyah sering kali terasa lebih sepi dan kurang mendapat perhatian dari masyarakat luas.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan: mengapa Tahun Baru Hijriyah cenderung menjadi tahun baru yang terlupakan?
Dominasi Kalender Masehi dalam Kehidupan Modern
Salah satu faktor utama adalah dominasi kalender Masehi dalam hampir seluruh aspek kehidupan modern. Kalender Masehi digunakan dalam administrasi pemerintahan, pendidikan, bisnis, perbankan, hingga teknologi digital. Jadwal kerja, tahun ajaran, laporan keuangan, dan berbagai aktivitas sehari-hari mengacu pada kalender ini.
Karena digunakan secara terus-menerus, masyarakat memiliki kedekatan yang lebih kuat dengan pergantian tahun Masehi. Sebaliknya, kalender Hijriyah lebih banyak digunakan untuk kepentingan ibadah dan penentuan hari-hari besar Islam seperti Ramadan, Idul Fitri, Idul Adha, dan peringatan keagamaan lainnya.
Tidak Ada Tradisi Perayaan Besar yang Mengakar
Tahun Baru Masehi identik dengan berbagai perayaan meriah seperti pesta kembang api, konser musik, pesta keluarga, hingga liburan panjang. Tradisi-tradisi tersebut telah berkembang selama puluhan bahkan ratusan tahun dan menjadi bagian dari budaya populer global.
Di sisi lain, Tahun Baru Hijriyah tidak memiliki tradisi perayaan yang seragam dan spektakuler. Dalam ajaran Islam, pergantian tahun lebih dipahami sebagai momentum refleksi diri, evaluasi kehidupan, dan peningkatan kualitas ibadah. Karena sifatnya yang lebih spiritual daripada seremonial, suasananya sering kali tidak semeriah Tahun Baru Masehi.
Kurangnya Pemahaman tentang Makna Hijrah
Banyak masyarakat mengenal Tahun Baru Hijriyah hanya sebagai hari libur nasional tanpa memahami makna mendalam di baliknya. Padahal, peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW merupakan titik balik penting dalam sejarah Islam yang mengajarkan keberanian, pengorbanan, optimisme, dan perubahan menuju kondisi yang lebih baik.
Ketika makna historis dan spiritual ini kurang dipahami, peringatan Tahun Baru Hijriyah menjadi sekadar pergantian tanggal tanpa resonansi emosional yang kuat di tengah masyarakat.
Pengaruh Budaya Global dan Media
Media massa dan media sosial memiliki peran besar dalam membentuk perhatian publik. Menjelang Tahun Baru Masehi, masyarakat disuguhi hitung mundur, promosi wisata, konser, diskon besar-besaran, hingga berbagai program hiburan. Akibatnya, suasana pergantian tahun terasa begitu masif dan sulit dihindari.
Sebaliknya, pemberitaan mengenai Tahun Baru Hijriyah sering kali lebih terbatas. Liputan biasanya berfokus pada kegiatan keagamaan, ceramah, atau pawai tertentu yang jangkauannya tidak sebesar perayaan Tahun Baru Masehi. Perbedaan eksposur ini membuat perhatian publik terhadap Tahun Baru Hijriyah menjadi lebih kecil.
Pergeseran Nilai dalam Masyarakat
Modernisasi dan globalisasi turut memengaruhi cara masyarakat memandang berbagai peristiwa penting. Banyak orang lebih menantikan momen yang bersifat hiburan dan rekreasi daripada momen refleksi spiritual. Akibatnya, Tahun Baru Masehi yang menawarkan suasana meriah lebih mudah menarik perhatian dibandingkan Tahun Baru Hijriyah yang mengajak masyarakat untuk merenung dan memperbaiki diri.
Perlukah Tahun Baru Hijriyah Dirayakan Secara Meriah?
Pertanyaan ini sering muncul dalam diskusi masyarakat. Pada dasarnya, esensi Tahun Baru Hijriyah bukanlah kemeriahan, melainkan penghayatan terhadap nilai-nilai hijrah. Yang lebih penting bukan seberapa besar perayaannya, melainkan sejauh mana momen tersebut mendorong perubahan positif dalam kehidupan individu maupun masyarakat.
Karena itu, upaya menghidupkan Tahun Baru Hijriyah tidak harus dilakukan dengan pesta besar. Kegiatan seperti kajian sejarah Islam, refleksi diri, program sosial, santunan, atau gerakan memperbaiki kualitas ibadah dapat menjadi cara yang lebih sesuai dengan semangat hijrah.
Penutup
Tahun Baru Hijriyah cenderung terasa sepi dan terlupakan bukan karena kurang penting, melainkan karena posisinya yang berbeda dari Tahun Baru Masehi dalam kehidupan masyarakat modern. Dominasi kalender Masehi, pengaruh budaya global, minimnya pemahaman tentang makna hijrah, serta karakter peringatannya yang lebih spiritual menjadi faktor utama yang menyebabkan perbedaan tersebut.
Meski tidak dirayakan dengan kemeriahan yang sama, Tahun Baru Hijriyah tetap memiliki nilai yang sangat besar bagi umat Islam. Momentum ini seharusnya menjadi kesempatan untuk melakukan evaluasi diri, memperkuat keimanan, dan menumbuhkan semangat perubahan ke arah yang lebih baik, sebagaimana makna hijrah yang diwariskan oleh Nabi Muhammad SAW.
kemerdekaan berfikir dalam pendidikan landasan kurikulum merdeka dan merdeka belajar
Para pemikir radikal, sosiolog, dan kritikus yang memandang
sekolah modern sebagai "pabrik tenaga kerja" tidak hanya melempar
kritik, tetapi juga menawarkan solusi konkrit. Menurut mereka, mendidik anak
seharusnya berfokus pada memanusiakan manusia, mengembalikan kemerdekaan
berpikir, dan melepaskan diri dari standardisasi industri.
Ivan Illich menawarkan konsep Deschooling Society.
Menurutnya, pendidikan harus dikembalikan ke komunitas, bukan dimonopoli oleh
sekolah berbentuk bangunan fisik yang kaku.
Filsuf pendidikan asal Brasil, Paulo Freire, dalam bukunya
Pedagogy of the Oppressed (Pendidikan Kaum Tertindas), mengkritik sistem
sekolah tradisional yang ia sebut sebagai Sistem Bank (Banking Concept of
Education). Di sistem ini, guru "menabung" informasi ke kepala anak,
dan anak pasif menerimanya.
Turunan modern dari kritik ini melahirkan gerakan
Unschooling (yang dipopulerkan oleh John Holt). Prinsip utamanya adalah
mempercayai insting alami anak untuk belajar.
Jika anak harus tetap berkumpul dalam sebuah komunitas, para
kritikus mendukung model Sekolah Demokratis seperti Summerhill School di
Inggris atau Sudbury Valley School di AS.
Dari kubu Robert Kiyosaki dan para kritikus ekonomi,
anak-anak seharusnya dididik di luar kurikulum akademis konvensional dengan
fokus pada:
Menurut mereka, mendidik anak yang benar adalah dengan menjaga rasa ingin tahu alaminya tetap hidup, melatih kelenturan mental, dan mengajari mereka cara menginterogasi sistem, bukan cara tunduk padanya. Tujuan pendidikan adalah agar anak menjadi subjek (pemegang kendali) atas hidupnya sendiri, bukan menjadi objek (alat produksi) bagi kepentingan orang lain.
Ketika Ijazah Menjadi Jebakan: Menolak Narasi Pendidikan sebagai Pabrik Kapitalisme
Sudut pandang bahwa pendidikan modern merupakan "scam" (penipuan) atau sekadar pabrik untuk mencetak "budak kapitalis" sebenarnya bukan hal baru. Kritik radikal ini telah dibahas oleh banyak sosiolog, filsuf, dan pemikir ekonomi politik selama lebih dari satu abad.
Banyak pemikir berargumen bahwa sekolah memiliki hidden
curriculum (kurikulum tersembunyi). Sekolah tidak hanya mengajarkan matematika
atau sejarah, tetapi secara halus melatih siswa untuk patuh pada hierarki.
Kepatuhan pada Bel: Jadwal yang diatur oleh bel sangat mirip dengan sistem sif di pabrik.
Standarisasi: Siswa dipaksa seragam dalam berpikir. Kreativitas yang terlalu liar sering kali dianggap sebagai pelanggaran atau keanehan. Ini dinilai sengaja dibentuk agar kelak mereka menjadi pekerja yang patuh dan mudah diatur oleh pemilik modal (kapitalis).
Dalam bukunya yang terkenal, Deschooling Society (1971),
filsuf Ivan Illich secara terang-terangan mengkritik institusi pendidikan
modern. Menurutnya, sekolah telah mengalami komodifikasi.
Dalam studi sosiologi marxis modern, Samuel Bowles dan
Herbert Gintis (1976) menulis buku berjudul Schooling in Capitalist America.
Mereka memperkenalkan Prinsip Korespondensi, yang menyatakan bahwa struktur di
dalam sekolah mencerminkan (berkorespondensi dengan) struktur di tempat kerja
kapitalis.
Di era modern, terutama di negara-negara barat (dan mulai
bergeser ke skema komersialisasi kampus di Indonesia), pendidikan tinggi
dianggap sebagai penipuan finansial.
Dari perspektif literasi keuangan, penulis buku Rich Dad
Poor Dad, Robert Kiyosaki, sering melontarkan kritik keras bahwa sekolah formal
adalah jebakan. Menurutnya, sekolah sengaja dirancang untuk menciptakan pegawai
(buruh/karyawan) dan bukan pemilik bisnis atau investor. Sekolah mengajarkan
orang untuk "bekerja demi uang" bukan "membuat uang bekerja
untuk mereka."
Kesimpulan Intisari Kritik:
Pihak yang setuju dengan narasi ini melihat bahwa institusi pendidikan telah bergeser dari tempat untuk memanusiakan manusia (mencari kebenaran dan kebijaksanaan) menjadi alat pencatat dan penyaring tenaga kerja (labor-screening tool) yang efisien bagi para pemilik modal.Tangis Haru dan Sujud Syukur Warnai Pengumuman Kelulusan Kelas VI SDN Cadasleueur Tahun Ajaran 2025/2026
Bogor, 4 Juni 2026 – Suasana haru dan penuh rasa syukur menyelimuti kegiatan pengumuman kelulusan siswa kelas VI SDN Cadasleueur yang dilaksanakan pada Kamis, 4 Juni 2026. Tangis bahagia para siswa, orang tua, dan guru pecah saat hasil kelulusan resmi diumumkan.
Bertempat di lingkungan SDN Cadasleueur, seluruh siswa kelas VI dinyatakan lulus setelah menyelesaikan seluruh proses pembelajaran dan mengikuti berbagai bentuk penilaian selama enam tahun menempuh pendidikan dasar. Kabar tersebut disambut dengan penuh suka cita oleh seluruh warga sekolah.
Beberapa siswa tampak menitikkan air mata haru karena berhasil menyelesaikan pendidikan di sekolah yang telah menjadi tempat mereka belajar, bermain, dan meraih berbagai pengalaman berharga. Tidak sedikit pula orang tua yang turut terharu menyaksikan putra-putrinya mencapai salah satu tonggak penting dalam perjalanan pendidikan mereka.
Momen yang paling mengharukan terjadi ketika sejumlah siswa dan orang tua melakukan sujud syukur sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada Allah SWT atas keberhasilan yang telah diraih. Suasana penuh khidmat dan kebersamaan semakin terasa ketika para guru memberikan ucapan selamat serta motivasi kepada para lulusan untuk terus melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Kepala SDN Cadasleueur, Juju Juhaeriah, S.Pd., M.M., menyampaikan apresiasi kepada seluruh siswa atas kerja keras dan semangat belajar yang telah ditunjukkan selama menempuh pendidikan di SDN Cadasleueur. Beliau juga mengucapkan terima kasih kepada para orang tua dan guru yang telah memberikan dukungan dan pendampingan sehingga seluruh siswa dapat menyelesaikan pendidikan dengan baik.
“Kelulusan ini bukanlah akhir dari perjalanan belajar, melainkan awal untuk meraih cita-cita yang lebih tinggi. Teruslah belajar, berakhlak baik, dan membawa nama baik sekolah di mana pun berada,” pesannya.
Kegiatan pengumuman kelulusan berlangsung dengan tertib, sederhana, dan penuh makna. Momen tangis haru, pelukan hangat, serta sujud syukur menjadi kenangan indah yang akan selalu melekat dalam perjalanan para lulusan SDN Cadasleueur Tahun Ajaran 2025/2026.
Selamat kepada seluruh siswa kelas VI SDN Cadasleueur. Semoga sukses menempuh pendidikan pada jenjang berikutnya dan meraih cita-cita yang diimpikan.
Guru-Guru SDN Cadasleueur Turut Memeriahkan Hari Jadi Bogor ke-544 di Kp. Citalahab Nirmala
Nanggung, 3 Juni 2026 – Guru-guru SDN Cadasleueur turut berpartisipasi dan memeriahkan rangkaian kegiatan Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544 yang diselenggarakan di Kampung Citalahab Nirmala, Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, pada Rabu, 3 Juni 2026.
Kegiatan yang berlangsung meriah tersebut dihadiri oleh Bupati Bogor beserta jajaran pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan warga dari berbagai wilayah di Kabupaten Bogor. Kehadiran para guru SDN Cadasleueur merupakan bentuk dukungan terhadap upaya pelestarian budaya, penguatan kebersamaan masyarakat, serta partisipasi aktif dalam pembangunan daerah.
Dalam kegiatan tersebut, para guru mengikuti berbagai rangkaian acara yang telah disiapkan panitia, mulai dari penyambutan tamu, pertunjukan seni budaya, hingga kegiatan kebersamaan bersama masyarakat. Suasana penuh semangat dan kekeluargaan tampak mewarnai seluruh rangkaian peringatan Hari Jadi Bogor ke-544.
Kepala SDN Cadasleueur menyampaikan bahwa keikutsertaan guru-guru dalam kegiatan ini merupakan wujud kepedulian dan dukungan terhadap program pemerintah daerah serta sebagai sarana mempererat hubungan antara dunia pendidikan dan masyarakat.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap dapat menumbuhkan rasa cinta terhadap Kabupaten Bogor serta meningkatkan semangat kebersamaan dan gotong royong di lingkungan masyarakat,” ujarnya.
Peringatan Hari Jadi Bogor ke-544 menjadi momentum penting untuk mengenang sejarah Kabupaten Bogor sekaligus memperkuat komitmen seluruh elemen masyarakat dalam mewujudkan Bogor yang maju, harmonis, dan berkelanjutan.
Dengan penuh antusias, guru-guru SDN Cadasleueur mengikuti kegiatan hingga selesai dan berharap semangat Hari Jadi Bogor ke-544 dapat terus menginspirasi masyarakat untuk bersama-sama membangun Kabupaten Bogor yang lebih baik.
Humas SDN Cadasleueur
Rabu, 3 Juni 2026.
Menjelang HJB (Hari Jadi Bogor) ke-544 di Citalahab, Akses Jalan Mulai Diperbaiki
Nanggung, 1 Juni 2026 – Menjelang pelaksanaan peringatan Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544 yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 3 Juni 2026, di Kampung Citalahab, Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, aktivitas perbaikan jalan menuju lokasi acara mulai terlihat. Sejumlah titik jalan yang sebelumnya mengalami kerusakan kini mendapat penanganan guna memperlancar akses kendaraan dan tamu yang akan menghadiri kegiatan tersebut.
Perbaikan jalan ini disambut positif oleh masyarakat setempat. Warga menilai kondisi jalan yang lebih baik akan memberikan kenyamanan bagi pengguna jalan serta mendukung kelancaran pelaksanaan acara HJB yang diperkirakan akan dihadiri oleh berbagai unsur pemerintahan dan masyarakat.
"Kami tentu senang jalan diperbaiki. Selain untuk kegiatan HJB, masyarakat juga bisa merasakan manfaatnya dalam beraktivitas sehari-hari," ujar salah seorang warga Desa Malasari.
Namun demikian, di balik apresiasi tersebut, muncul pula sejumlah pandangan kritis dari masyarakat. Beberapa warga menilai perbaikan infrastruktur sering kali dilakukan menjelang kunjungan pejabat atau pelaksanaan acara besar saja. Kondisi ini dinilai menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur masih bersifat temporer dan belum dilakukan secara berkelanjutan.
Menurut warga, tidak sedikit ruas jalan yang sebelumnya telah diperbaiki kembali mengalami kerusakan dalam waktu relatif singkat. Hal tersebut diduga akibat kualitas pekerjaan yang kurang maksimal maupun minimnya pemeliharaan pasca-perbaikan.
"Harapan kami bukan hanya diperbaiki saat ada acara atau pejabat yang lewat. Jalan ini digunakan masyarakat setiap hari, sehingga perlu pembangunan yang benar-benar berkualitas dan tahan lama," ungkap warga lainnya.
Masyarakat berharap momentum peringatan HJB ke-544 dapat menjadi titik awal perhatian yang lebih serius terhadap pembangunan infrastruktur di wilayah Kecamatan Nanggung, khususnya daerah-daerah yang menjadi akses penting bagi aktivitas warga dan pengembangan potensi wisata alam di kawasan Malasari.
Dengan perbaikan yang sedang berlangsung, warga berharap akses menuju Kampung Citalahab dapat semakin baik dan memberikan manfaat jangka panjang, tidak hanya untuk menyukseskan peringatan Hari Jadi Bogor ke-544, tetapi juga untuk meningkatkan konektivitas dan kesejahteraan masyarakat setempat.
Guru SDN Cadasleueur Mengikuti Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026
Nanggung, 1 Juni 2026 – Guru-guru SDN Cadasleueur turut mengikuti Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila yang dilaksanakan di halaman Kantor Kecamatan Nanggung pada Senin, 1 Juni 2026. Kegiatan tersebut diikuti oleh unsur pemerintah kecamatan, instansi pendidikan, TNI, Polri, perangkat desa, serta berbagai elemen masyarakat di wilayah Kecamatan Nanggung.
Upacara berlangsung dengan khidmat dan penuh semangat kebangsaan. Seluruh peserta upacara mengikuti rangkaian kegiatan mulai dari pengibaran bendera Merah Putih, pembacaan teks Pancasila, pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, hingga penyampaian amanat pembina upacara.
Dalam amanatnya, pembina upacara mengajak seluruh peserta untuk terus mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa diharapkan dapat menjadi pedoman dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan di era modern.
Kehadiran guru-guru SDN Cadasleueur dalam kegiatan ini merupakan bentuk komitmen untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan karakter luhur kepada peserta didik. Melalui peringatan Hari Lahir Pancasila, para pendidik diharapkan dapat menjadi teladan dalam mengamalkan nilai-nilai persatuan, gotong royong, toleransi, dan cinta tanah air.
Kepala SDN Cadasleueur Juju Juhaeriah menyampaikan bahwa partisipasi guru dalam upacara Hari Lahir Pancasila merupakan wujud dukungan terhadap upaya pemerintah dalam memperkuat ideologi Pancasila di lingkungan pendidikan.
Kegiatan upacara berakhir dengan tertib dan lancar. Diharapkan momentum peringatan Hari Lahir Pancasila tahun 2026 ini semakin memperkokoh semangat persatuan dan kesatuan serta meningkatkan rasa cinta terhadap bangsa dan negara Indonesia.
Reporter: SDN Cadasleueur
Senin, 1 Juni 2026
SDN Cadasleueur Berjaya di Ajang OTRAD 2026, Sabet Juara Sumpitan dan Dagongan
NANGGUNG – Prestasi membanggakan ditorehkan oleh siswa-siswi SDN Cadasleueur dalam ajang Lomba Olahraga Tradisional (OTRAD) tingkat Kecamatan Nanggung yang digelar pada Selasa, 12 Mei 2026. Dalam kompetisi yang berlangsung sengit tersebut, SDN Cadasleueur berhasil membawa pulang dua trofi sekaligus.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Badan Pembina Olahraga Pelajar Seluruh Indonesia (BAPOPSI) Kecamatan Nanggung ini merupakan agenda tahunan untuk melestarikan budaya bangsa melalui olahraga. Tercatat, sebanyak 40 Sekolah Dasar di seluruh wilayah Kecamatan Nanggung turut berpartisipasi mengirimkan atlet-atlet terbaik mereka.
Dominasi di Cabang Sumpitan
Kejutan manis datang dari cabang olahraga Sumpitan, di mana perwakilan dari SDN Cadasleueur yaitu Aqil shirooj, Azril Sapalah, dan Dwi Cantika Putri berhasil tampil konsentrasi dan akurat. Berkat ketenangan dan latihan yang disiplin, mereka sukses mengungguli puluhan sekolah lainnya dan berhak menyandang gelar Juara 1.
Perjuangan Tangguh di Dagongan
Tak hanya di cabang Sumpitan, tim putra SDN Cadasleueur juga menunjukkan kekuatan fisik dan kekompakan yang luar biasa di cabang Dagongan Putra. Setelah melewati beberapa babak penyisihan yang melelahkan, tim ini yang terdiri dari Akbar Pratama, Zaini Akmal, Riki Awaludi, Raden Prabu, Rasya Virzha, dan Akil Habib akhirnya berhasil mengamankan posisi sebagai Juara 3.
"Ini adalah hasil kerja keras anak-anak dan dukungan penuh dari guru serta orang tua. Bersaing dengan 40 sekolah lainnya tentu tidak mudah, namun semangat anak-anak terbukti mampu membuahkan hasil," ujar Bu Yeni, salah satu perwakilan guru SDN Cadasleueur di lokasi kegiatan.
Pihak BAPOPSI Kecamatan Nanggung berharap kegiatan ini tidak hanya sekadar mencari pemenang, tetapi juga menjadi sarana bagi generasi muda untuk lebih mencintai dan melestarikan olahraga tradisional Indonesia agar tidak tergerus oleh zaman.
Dengan keberhasilan ini, SDN Cadasleueur membuktikan bahwa sekolah mereka memiliki potensi besar dalam bidang olahraga non-akademik, sekaligus mempererat sportivitas antar-pelajar se-Kecamatan Nanggung.
Berita Duka
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Telah berpulang ke rahmatullah Kepala SDN Malasari 5 pada hari Sabtu, 9 Mei 2026 di RSUD Leuwiliang setelah sekian lama menjalani perawatan akibat penyakit gagal ginjal dan kanker darah.
Almarhum dikenal sebagai sosok pendidik dan kepala sekolah yang berdedikasi, penuh tanggung jawab, dan memiliki kepedulian besar terhadap dunia pendidikan serta lingkungan sekolah.
Jenazah telah diberangkatkan ke Bandung untuk dimakamkan di lingkungan keluarga.
Semoga almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya, diampuni segala dosa-dosanya, serta keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan.
Aamiin ya rabbal ‘alamin.
Hardiknas: Antara Seremonial dan Realita Pendidikan yang Tertinggal
Setiap tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Spanduk dan banner terbentang di berbagai kantor instansi pendidikan dan sekolah. slogan-slogan inspiratif memenuhi media sosial, dan upacara seremonial digelar dengan penuh khidmat. Namun di balik kemeriahan simbolik tersebut, muncul pertanyaan yang sulit diabaikan: apakah peringatan ini benar-benar mencerminkan kemajuan pendidikan yang nyata?
Fenomena Hardiknas yang lebih ramai dengan banner dan slogan seolah menjadi rutinitas tahunan tanpa refleksi mendalam. Kata-kata seperti “Merdeka Belajar” atau “Pendidikan Berkualitas untuk Semua” terdengar indah, tetapi sering kali berhenti sebagai jargon tanpa implementasi yang konsisten di lapangan. Realitas di berbagai daerah menunjukkan bahwa kesenjangan akses pendidikan masih lebar, kualitas tenaga pengajar belum merata, dan fasilitas pendidikan di banyak sekolah masih jauh dari layak.
Di wilayah terpencil, masih banyak sekolah yang kekurangan guru, buku, bahkan bangunan yang aman. Sementara itu, di perkotaan, tantangan bergeser ke arah kualitas pembelajaran dan tekanan akademik yang tinggi. Ketimpangan ini menunjukkan bahwa sistem pendidikan belum mampu memberikan solusi yang merata bagi seluruh lapisan masyarakat.
Lebih dari itu, capaian pendidikan Indonesia dalam berbagai indikator global juga belum menunjukkan lonjakan signifikan. Literasi dan numerasi siswa masih menjadi pekerjaan rumah besar. Banyak lulusan yang belum siap menghadapi dunia kerja, mencerminkan adanya kesenjangan antara kurikulum dan kebutuhan nyata.
Hardiknas seharusnya menjadi momentum evaluasi, bukan sekadar perayaan. Pemerintah, pendidik, dan masyarakat perlu menjadikan hari ini sebagai titik refleksi: apa yang sudah berhasil, dan apa yang masih perlu diperbaiki. Tanpa evaluasi yang jujur, Hardiknas hanya akan menjadi simbol kosong yang kehilangan makna substansialnya.
Perubahan nyata membutuhkan lebih dari sekadar slogan. Dibutuhkan kebijakan yang berkelanjutan, distribusi sumber daya yang adil, serta komitmen kuat untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara menyeluruh. Tanpa itu, Hardiknas akan terus berulang sebagai seremoni tahunan—meriah di permukaan, namun minim dampak di akar permasalahan.
Sudah saatnya kita mengubah cara memaknai Hardiknas: dari sekadar perayaan menjadi gerakan nyata untuk memperbaiki pendidikan Indonesia.
Hardiknas: Meriah Twibbon, Sepi Perubahan Nyata
SDN Cadasleueur Sukses Gelar TKA Jenjang SD Tahun 2026
Bogor, 23 April 2026 — SDN Cadasleueur melaksanakan kegiatan Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang Sekolah Dasar tahun 2026 dengan lancar dan tertib. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, yakni pada Rabu dan Kamis, tanggal 22–23 April 2026, bertempat di lingkungan SDN Cadasleueur.
Sebanyak 46 siswa kelas VI mengikuti pelaksanaan TKA tahun ini. Untuk menjaga ketertiban, kenyamanan, serta kelancaran proses ujian, peserta dibagi ke dalam dua sesi. Masing-masing sesi diikuti oleh 23 siswa, sehingga pelaksanaan dapat berjalan lebih kondusif dan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan.
Selama kegiatan berlangsung, seluruh siswa mengikuti ujian dengan penuh kesungguhan dan disiplin. Panitia dan pengawas juga menjalankan tugasnya secara profesional, memastikan setiap tahapan berjalan sesuai dengan standar operasional.
Kepala SDN Cadasleueur menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan ini, mulai dari panitia, pengawas, guru, hingga para siswa yang telah menunjukkan sikap tanggung jawab dan integritas selama pelaksanaan TKA.
“Alhamdulillah, pelaksanaan TKA tahun ini berjalan dengan lancar tanpa kendala berarti. Ini merupakan hasil kerja sama yang baik dari seluruh warga sekolah,” ujarnya.
Dengan terlaksananya TKA ini, diharapkan dapat menjadi tolok ukur pencapaian kompetensi siswa kelas VI serta menjadi bekal penting dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. SDN Cadasleueur terus berkomitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan dan mencetak generasi yang unggul, berkarakter, dan berprestasi.
Jalin Silaturahmi Usai Ramadhan, SDN Cadasleueur Gelar Halal Bihalal Syawal 1447 H
**Cadasleueur, 30 Maret 2026** – Nuansa kekeluargaan dan
kebersamaan tampak begitu kental di lingkungan SDN Cadasleueur pada Senin pagi
(30/3/2026). Seluruh civitas akademika, mulai dari para guru, staf tata usaha,
hingga para siswa, menggelar kegiatan Halal Bihalal dalam rangka merayakan
bulan Syawal 1447 Hijriah.
Pengawas Bina Kecamatan Nanggung Tinjau Gladi Bersih TKA di SDN Cadasleueur
Nanggung, 11 Maret 2026 – Pengawas Bina (Wasbin) Sekolah Dasar tingkat Kecamatan Nanggung, Bapak Toyo Hartoyo, S.Pd, melakukan peninjauan sekaligus monitoring pelaksanaan gladi bersih Tes Kemampuan Akademik (TKA) di SDN Cadasleueur pada Rabu (11/03/2026).
Kegiatan monitoring ini bertujuan untuk memastikan seluruh persiapan pelaksanaan TKA di SDN Cadasleueur berjalan dengan baik, mulai dari kesiapan sarana prasarana, perangkat teknis, hingga kesiapan panitia dan peserta didik. Gladi bersih merupakan tahap penting sebelum pelaksanaan TKA yang sesungguhnya, sehingga segala kemungkinan kendala dapat diantisipasi sejak awal.
Dalam kunjungannya, Bapak Toyo Hartoyo meninjau langsung ruang pelaksanaan ujian, perangkat laptop yang digunakan peserta, serta kesiapan proktor dan teknisi yang bertugas mengelola sistem pelaksanaan tes. Beliau juga berdialog dengan panitia sekolah mengenai mekanisme pelaksanaan TKA serta langkah-langkah yang telah dipersiapkan oleh pihak sekolah.
Kepala SDN Cadasleueur menyampaikan bahwa kegiatan gladi bersih ini dilaksanakan sebagai bagian dari upaya memastikan pelaksanaan TKA tahun 2026 berjalan lancar, tertib, dan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan. Dengan adanya monitoring dari pengawas bina, diharapkan seluruh tahapan persiapan dapat berjalan lebih optimal.
Bapak Toyo Hartoyo, S.Pd dalam kesempatan tersebut memberikan apresiasi kepada pihak sekolah atas kesiapan yang telah dilakukan. Ia juga memberikan beberapa arahan agar pelaksanaan TKA nantinya dapat berjalan dengan baik, tertib, dan tanpa kendala teknis.
“Gladi bersih ini sangat penting untuk memastikan semua perangkat dan prosedur berjalan sebagaimana mestinya. Saya mengapresiasi kesiapan SDN Cadasleueur dalam mempersiapkan pelaksanaan TKA,” ungkapnya.
Melalui kegiatan monitoring ini, diharapkan pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) Tahun 2026 di SDN Cadasleueur dapat berlangsung dengan lancar, tertib, dan memberikan hasil yang optimal bagi para peserta didik.
PROGRAM PESANTREN RAMADHAN SDN CADASLEUEUR 1447 H / 2026
Dalam rangka meningkatkan keimanan, ketakwaan, serta membentuk karakter peserta didik yang religius, SDN Cadasleueur menyelenggarakan kegiatan Pesantren Ramadhan 1447 H yang dilaksanakan pada tanggal 9–13 Maret 2026. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh siswa dengan penuh antusias serta didampingi oleh guru dan panitia sekolah.
Pesantren Ramadhan merupakan program tahunan yang bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai keislaman sejak dini kepada peserta didik. Melalui kegiatan ini, siswa diharapkan dapat memperdalam pemahaman tentang ajaran agama Islam sekaligus membiasakan diri dalam menjalankan ibadah selama bulan suci Ramadhan.
Selama pelaksanaan kegiatan, peserta didik mengikuti berbagai aktivitas keagamaan yang edukatif dan menyenangkan. Kegiatan tersebut antara lain tadarus Al-Qur’an, shalat dhuha berjamaah, praktik wudhu dan shalat, ceramah keagamaan, hafalan doa-doa harian, serta pembelajaran tentang akhlak dan adab dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, siswa juga diajak untuk meningkatkan kepedulian sosial dan semangat berbagi kepada sesama.
Kepala SDN Cadasleueur menyampaikan bahwa kegiatan Pesantren Ramadhan ini diharapkan dapat menjadi sarana pembinaan karakter bagi siswa. Melalui kegiatan ini, sekolah ingin membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak mulia, disiplin dalam beribadah, serta sikap peduli terhadap lingkungan dan sesama.
Suasana kegiatan berlangsung dengan tertib, penuh kebersamaan, dan semangat religius. Para siswa mengikuti setiap rangkaian kegiatan dengan antusias sehingga kegiatan Pesantren Ramadhan tahun ini dapat berjalan dengan lancar dan memberikan pengalaman spiritual yang bermakna bagi seluruh peserta.
Dengan terlaksananya kegiatan Pesantren Ramadhan ini, diharapkan nilai-nilai kebaikan yang telah dipelajari selama kegiatan dapat terus diterapkan oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat.
SDN Cadasleueur, Maret 2026
Panitia Kegiatan Pesantren Ramadhan 1447 H