Para pemikir radikal, sosiolog, dan kritikus yang memandang
sekolah modern sebagai "pabrik tenaga kerja" tidak hanya melempar
kritik, tetapi juga menawarkan solusi konkrit. Menurut mereka, mendidik anak
seharusnya berfokus pada memanusiakan manusia, mengembalikan kemerdekaan
berpikir, dan melepaskan diri dari standardisasi industri.
Berikut adalah alternatif dan prinsip utama tentang
bagaimana seharusnya anak dididik menurut pandangan mereka:
1. Deschooling (Membubarkan Institusi Sekolah formal)
Ivan Illich menawarkan konsep Deschooling Society.
Menurutnya, pendidikan harus dikembalikan ke komunitas, bukan dimonopoli oleh
sekolah berbentuk bangunan fisik yang kaku.
Jaringan Belajar (Learning Webs): Anak-anak seharusnya
belajar lewat hubungan langsung dengan mentor atau ahli di bidang yang mereka
sukai secara sukarela. Jika seorang anak tertarik pada pertukangan, mereka
belajar langsung pada tukang kayu, bukan duduk di kelas mendengarkan teori.
Akses Bebas ke Sumber Daya: Negara atau komunitas
menyediakan perpustakaan, laboratorium, dan bengkel kerja yang bisa diakses
anak kapan saja tanpa perlu ada kurikulum formal atau ujian.
2. Pendidikan Hadap-Masalah (Pedagogi Kritis)
Filsuf pendidikan asal Brasil, Paulo Freire, dalam bukunya
Pedagogy of the Oppressed (Pendidikan Kaum Tertindas), mengkritik sistem
sekolah tradisional yang ia sebut sebagai Sistem Bank (Banking Concept of
Education). Di sistem ini, guru "menabung" informasi ke kepala anak,
dan anak pasif menerimanya.
Freire menawarkan Pendidikan Hadap-Masalah (Problem-Posing
Education):
Anak tidak dicekoki hafalan, melainkan diajak berdialog
melihat realitas sosial di sekitarnya.
Anak dilatih berpikir kritis: Why (Mengapa kemiskinan
terjadi?), How (Bagaimana sistem ini bekerja?), bukan sekadar What (Apa
definisi dari regulasi ini?).
Guru dan murid posisinya setara, bersama-sama belajar dan
memecahkan masalah nyata di dunia.
3. Gerakan Unschooling dan Self-Directed Education
Turunan modern dari kritik ini melahirkan gerakan
Unschooling (yang dipopulerkan oleh John Holt). Prinsip utamanya adalah
mempercayai insting alami anak untuk belajar.
Belajar Berbasis Minat (Interest-Led Learning): Anak
memegang kendali penuh atas apa, kapan, dan bagaimana mereka belajar. Orang tua
bertindak sebagai fasilitator, bukan "mandor" yang mendikte jadwal.
Bermain Bebas: Bagi anak usia dini, bermain tanpa struktur
adalah cara terbaik mempelajari fisika (lewat balok), sosial (lewat interaksi),
dan bahasa, tanpa perlu dipaksa duduk diam dan menulis di lembar kerja (LKS).
4. Pendidikan Demokratis (Contoh: Sekolah Summerhill)
Jika anak harus tetap berkumpul dalam sebuah komunitas, para
kritikus mendukung model Sekolah Demokratis seperti Summerhill School di
Inggris atau Sudbury Valley School di AS.
Kehadiran Sukarela: Anak-anak bebas memilih apakah mereka
mau masuk kelas atau tidak pada hari itu. Jika mereka ingin bermain seharian di
hutan, itu hak mereka.
Tata Tertib Dibuat Bersama: Semua peraturan sekolah
diputuskan lewat rapat bersama di mana suara satu anak kecil memiliki bobot
yang sama dengan suara kepala sekolah. Ini mendidik anak menjadi warga negara
yang setara dan kritis, bukan bawahan yang patuh pada bos.
5. Fokus pada Literasi Finansial dan Kemandirian Nyata
Dari kubu Robert Kiyosaki dan para kritikus ekonomi,
anak-anak seharusnya dididik di luar kurikulum akademis konvensional dengan
fokus pada:
Literasi Keuangan Riil: Mengajarkan bagaimana uang bekerja,
manajemen aset, utang yang sehat, dan cara membangun bisnis sejak dini, bukan
sekadar melatih mereka agar resume/CV-nya dilirik korporasi.
Kecerdasan Jalanan (Street Smarts): Melatih mental tangguh
menghadapi kegagalan, negosiasi, kreativitas, dan adaptasi—hal-hal yang justru
sering kali "dimatikan" oleh sistem sekolah yang menghukum kesalahan
dengan nilai merah.
Intisari:
Menurut mereka, mendidik anak yang benar adalah
dengan menjaga rasa ingin tahu alaminya tetap hidup, melatih kelenturan mental,
dan mengajari mereka cara menginterogasi sistem, bukan cara tunduk padanya.
Tujuan pendidikan adalah agar anak menjadi subjek (pemegang kendali) atas
hidupnya sendiri, bukan menjadi objek (alat produksi) bagi kepentingan orang
lain.