SDN Cadasleueur Umumkan Hasil SPMB Tahun Pelajaran 2026/2027, Tetapkan 47 Calon Murid Baru

 


Cadasleueur, Senin, 6 Juli 2026 – SD Negeri Cadasleueur secara resmi mengumumkan hasil Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Pelajaran 2026/2027 pada Senin, 6 Juli 2026. Pengumuman ini merupakan tahapan akhir dari proses seleksi penerimaan murid baru yang telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan dan daya tampung sekolah. Pelaksanaan SPMB secara umum memang diarahkan berlangsung secara objektif, transparan, akuntabel, dan tanpa diskriminasi sesuai kebijakan Kemendikdasmen. (BBPMP Provinsi Jawa Timur)

Berdasarkan hasil seleksi dan rapat panitia SPMB, sebanyak 47 calon murid baru dinyatakan diterima dan resmi ditetapkan sebagai peserta didik baru SD Negeri Cadasleueur untuk Tahun Pelajaran 2026/2027.

Kepala SD Negeri Cadasleueur menyampaikan apresiasi kepada seluruh orang tua dan calon murid yang telah mengikuti seluruh rangkaian proses SPMB dengan tertib. Beliau juga mengucapkan selamat kepada seluruh calon murid yang berhasil diterima.

"Selamat kepada seluruh calon murid baru yang telah dinyatakan diterima di SD Negeri Cadasleueur. Kami berharap para peserta didik dapat belajar dengan semangat, berprestasi, berkarakter, serta menjadi generasi yang berakhlak mulia. Terima kasih kepada seluruh orang tua atas kepercayaan yang diberikan kepada SD Negeri Cadasleueur."

Proses seleksi dilaksanakan berdasarkan ketentuan yang berlaku dengan memperhatikan daya tampung sekolah sehingga hasil yang ditetapkan diharapkan mampu memberikan kesempatan pendidikan yang adil dan berkualitas bagi seluruh peserta didik.

Dengan diumumkannya hasil SPMB ini, para calon murid yang dinyatakan diterima diharapkan segera mengikuti tahapan berikutnya sesuai jadwal yang telah ditetapkan oleh panitia sekolah, termasuk proses daftar ulang dan pemberkasan administrasi.

SD Negeri Cadasleueur mengucapkan terima kasih kepada seluruh panitia, guru, komite sekolah, pemerintah desa, serta masyarakat yang telah mendukung kelancaran pelaksanaan SPMB Tahun Pelajaran 2026/2027.

Data Hasil SPMB

  • Sekolah: SD Negeri Cadasleueur

  • Tahun Pelajaran: 2026/2027

  • Hari/Tanggal Pengumuman: Senin, 6 Juli 2026

  • Jumlah Calon Murid Baru Ditetapkan: 47 orang

Selamat datang kepada 47 calon murid baru SD Negeri Cadasleueur. Semoga menjadi awal yang baik untuk meraih prestasi, membangun karakter, dan mewujudkan cita-cita bersama. 🎉📚

Haru dan Bangga, SDN Cadasleueur Lepas 46 Siswa Kelas 6 dalam Prosesi Pembagian Ijazah


BOGOR – Suasana haru dan penuh kebanggaan menyelimuti SDN Cadasleueur pada Sabtu (4/7/2026). Pihak sekolah secara resmi menyerahkan ijazah kepada 46 siswa kelas 6 sebagai tanda kelulusan setelah menuntaskan pendidikan selama enam tahun.

Meskipun dilaksanakan di tengah tantangan kondisi sarana prasarana sekolah yang saat ini sedang menjadi perhatian, prosesi pembagian ijazah berlangsung khidmat. Para orang tua siswa tampak hadir dengan wajah sumringah melihat buah hati mereka menerima bukti kelulusan yang menjadi tiket untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.



Kepala SDN Cadasleueur, Hj. Juju, menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada 46 siswa tersebut atas perjuangan dan ketekunan mereka selama masa belajar.

"Hari ini adalah hari yang bersejarah bagi 46 lulusan kami. Meskipun dengan segala keterbatasan kondisi fisik bangunan sekolah saat ini, semangat belajar siswa tidak pernah padam. Ijazah ini bukan sekadar kertas, melainkan bukti perjuangan kalian selama menimba ilmu di sekolah ini," ujar Hj. Juju dalam sambutannya.

Beliau juga berpesan kepada para lulusan agar tetap menjaga nama baik almamater dan terus bersemangat menuntut ilmu di bangku SMP nanti. "Teruslah mengejar mimpi kalian. Jadilah kebanggaan orang tua dan masyarakat," tambahnya.



Perwakilan orang tua siswa mengungkapkan rasa terima kasih kepada seluruh dewan guru yang telah membimbing 46 anak tersebut dengan penuh dedikasi.

"Kami sangat berterima kasih kepada Ibu Kepala Sekolah dan para guru. Di tengah kondisi bangunan yang memprihatinkan, Bapak dan Ibu Guru tetap sabar mendidik anak-anak kami hingga 46 siswa ini bisa lulus dengan baik hari ini," ungkap salah satu orang tua siswa dengan nada haru.



Prosesi pembagian ijazah ini ditutup dengan sesi foto bersama antara guru dan siswa di halaman sekolah. Ke depannya, pihak sekolah berharap agar pemerintah terkait dapat segera memberikan perhatian lebih terhadap perbaikan ruang kelas agar kegiatan belajar mengajar bagi adik-adik kelas mereka ke depan dapat berlangsung dengan lebih aman dan nyaman. 

SPMB SDN Cadasleueur Berjalan Tertib dan Aman, Antusiasme Orang Tua Sangat Tinggi

 



Cadasleueur, 26 Juni 2026 – Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) di SDN Cadasleueur pada Jumat (26/6/2026) berlangsung dengan tertib, aman, dan lancar. Kegiatan pendaftaran dimulai sejak pukul 08.00 WIB dan disambut dengan antusias oleh para orang tua yang datang untuk mendaftarkan putra-putri mereka sebagai calon peserta didik baru Tahun Pelajaran 2026/2027.

Sejak pagi hari, para orang tua tampak berbondong-bondong mendatangi lokasi pendaftaran. Mereka mengikuti seluruh tahapan pendaftaran dengan tertib sesuai arahan panitia. Suasana berlangsung kondusif berkat kesiapan panitia SPMB yang telah mengatur alur pelayanan sehingga proses pendaftaran dapat berjalan dengan cepat, nyaman, dan tanpa kendala berarti.

Panitia SPMB SDN Cadasleueur memberikan pelayanan secara maksimal kepada setiap calon peserta didik dan orang tua. Mulai dari pemeriksaan kelengkapan berkas, pengisian formulir, hingga proses verifikasi data dilakukan dengan teliti dan ramah. Hal ini memberikan kemudahan bagi masyarakat yang ingin mendaftarkan anaknya di SDN Cadasleueur.

Tingginya minat masyarakat menunjukkan kepercayaan yang besar terhadap SDN Cadasleueur sebagai lembaga pendidikan dasar yang berkomitmen memberikan layanan pendidikan yang berkualitas, nyaman, dan berkarakter. Para orang tua berharap putra-putri mereka dapat belajar dan berkembang dengan baik di lingkungan sekolah yang aman dan kondusif.

Kepala SDN Cadasleueur menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia yang telah bekerja dengan penuh tanggung jawab sehingga pelaksanaan SPMB hari pertama dapat berlangsung dengan baik. Beliau juga mengucapkan terima kasih kepada para orang tua yang telah mematuhi seluruh prosedur pendaftaran sehingga suasana tetap tertib dan nyaman.

Dengan terlaksananya kegiatan SPMB secara lancar dan aman, diharapkan seluruh proses penerimaan murid baru di SDN Cadasleueur dapat terus berjalan dengan baik hingga tahapan pendaftaran selesai. SDN Cadasleueur berkomitmen memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat serta mewujudkan pendidikan yang bermutu bagi seluruh peserta didik.



Reporter: Tim Publikasi SDN Cadasleueur
Jumat, 26 Juni 2026

Asal Usul Samen di Indonesia

 


Pendahuluan

Istilah samen atau samenan sudah lama dikenal masyarakat, terutama di Jawa Barat dan beberapa daerah lain di Indonesia. Saat ini, kata tersebut sering digunakan untuk menyebut acara perpisahan, pentas seni, atau perayaan kelulusan siswa. Namun, sebenarnya istilah samen memiliki sejarah yang berkaitan dengan sistem pendidikan pada masa kolonial Belanda.

Asal Kata Samen

Kata samen berasal dari bahasa Belanda examen yang berarti ujian. Dalam pengucapan masyarakat lokal, khususnya masyarakat Sunda dan Jawa, kata examen lama-kelamaan berubah menjadi samen atau samenan. Pada awalnya, istilah ini digunakan untuk menyebut kegiatan ujian akhir yang diselenggarakan di sekolah-sekolah pada masa Hindia Belanda. (Facebook)

Perkembangan Tradisi Samen

Sejak masa kolonial, sistem evaluasi pendidikan telah diterapkan melalui berbagai bentuk ujian. Setelah Indonesia merdeka, sistem ujian mengalami beberapa perubahan, mulai dari Ujian Penghabisan (1950–1964), Ujian Negara (1965–1971), Ujian Sekolah, EBTANAS, UAN, hingga Ujian Nasional. Tradisi pelaksanaan ujian akhir tersebut telah ada sejak zaman Hindia Belanda dan terus berkembang hingga masa modern. (UNY Journal)

Di berbagai daerah, khususnya di Jawa Barat, masyarakat kemudian mengaitkan berakhirnya ujian dengan rasa syukur dan kegembiraan. Setelah para siswa menyelesaikan ujian, sekolah dan masyarakat mengadakan pertunjukan kesenian, pembagian penghargaan, serta berbagai acara hiburan. Kegiatan inilah yang kemudian dikenal dengan nama samenan.

Samen sebagai Tradisi Budaya

Seiring berjalannya waktu, makna samen tidak lagi terbatas pada ujian akhir. Istilah tersebut berkembang menjadi sebuah tradisi perayaan yang menampilkan:

  • Pentas seni siswa.

  • Pameran hasil karya peserta didik.

  • Perpisahan dan pelepasan siswa.

  • Penyerahan penghargaan kepada siswa berprestasi.

  • Kegiatan kebersamaan antara sekolah, orang tua, dan masyarakat.

Di banyak sekolah dasar, terutama di Jawa Barat, acara samen menjadi bagian penting dalam menumbuhkan kreativitas siswa sekaligus mempererat hubungan antara sekolah dan masyarakat.

Penutup

Tradisi samen di Indonesia berakar dari kata Belanda examen yang berarti ujian. Awalnya istilah tersebut merujuk pada pelaksanaan ujian akhir pada masa kolonial. Namun, dalam perkembangannya, masyarakat Indonesia memberikan makna yang lebih luas sehingga samen berubah menjadi sebuah tradisi perayaan pendidikan yang sarat dengan nilai kebersamaan, rasa syukur, dan pelestarian seni budaya daerah.

Dengan demikian, samen bukan sekadar acara perpisahan, melainkan warisan sejarah pendidikan yang telah bertransformasi menjadi tradisi budaya masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa Barat. 📚🎓🎭

Daftar Pustaka

  1. Jurnal Istoria Universitas Negeri Yogyakarta, Ujian Nasional: Sejarah dan Dinamika Perkembangannya. (UNY Journal)

  2. Eduplus Asia, Sejarah Ujian Nasional di Indonesia. (Eduplus Asia)

  3. SMP Negeri 1 Gombong, Sejarah Evaluasi dari Masa ke Masa. (smpn1gombong.sch.id)

  4. Informasi sejarah penggunaan istilah samen yang berasal dari kata Belanda examen. (Facebook)

Di Balik Hilangnya Ranking di Rapor: Perjalanan dari Kurikulum 2013 hingga Kurikulum Merdeka

 

Bagi sebagian orang tua dan guru, keberadaan ranking atau peringkat kelas dalam rapor pernah menjadi hal yang sangat penting. Ranking dianggap sebagai tolok ukur keberhasilan belajar siswa dan menjadi kebanggaan tersendiri bagi mereka yang berhasil menduduki posisi teratas. Namun, sejak diberlakukannya Kurikulum 2013 (K-13) hingga saat ini dalam Kurikulum Merdeka, kolom ranking tidak lagi dicantumkan dalam rapor siswa.

Lalu, mengapa ranking dihilangkan? Apakah kebijakan ini hanya mengikuti tren pendidikan negara lain, atau ada pertimbangan khusus dalam dunia pendidikan Indonesia?

Perubahan Paradigma Penilaian

Sebelum Kurikulum 2013 diterapkan, penilaian hasil belajar lebih banyak berfokus pada aspek akademik yang diukur melalui angka. Dari nilai-nilai tersebut kemudian disusun peringkat siswa dari yang tertinggi hingga terendah.

Ketika Kurikulum 2013 mulai diterapkan, pemerintah memperkenalkan konsep penilaian yang lebih komprehensif. Siswa tidak hanya dinilai dari kemampuan mengerjakan soal, tetapi juga dari aspek keterampilan, sikap, karakter, kreativitas, dan kemampuan bekerja sama. Dengan demikian, keberhasilan siswa tidak lagi dapat digambarkan hanya melalui satu angka atau satu posisi dalam peringkat kelas.

Fokus pada Kompetensi, Bukan Kompetisi

Salah satu tujuan utama penghapusan ranking adalah mengubah orientasi pembelajaran dari kompetisi menuju pengembangan kompetensi. Dalam sistem ranking, perhatian siswa sering kali terfokus pada posisi dibandingkan teman-temannya. Akibatnya, proses belajar terkadang hanya menjadi sarana untuk mengejar nilai dan peringkat.

Melalui Kurikulum 2013 dan kemudian Kurikulum Merdeka, pemerintah berupaya mendorong siswa untuk bersaing dengan dirinya sendiri, yaitu terus meningkatkan kemampuan dan prestasi pribadi dari waktu ke waktu. Dengan demikian, setiap siswa dihargai berdasarkan perkembangan yang dicapainya, bukan semata-mata berdasarkan urutan nilai di kelas.

Menghargai Keunikan Setiap Siswa

Setiap anak memiliki bakat dan potensi yang berbeda. Ada siswa yang unggul dalam matematika, ada yang berbakat dalam seni, olahraga, kepemimpinan, atau keterampilan sosial. Sistem ranking sering kali hanya menonjolkan siswa yang memiliki nilai akademik tinggi, sementara potensi lain kurang mendapat perhatian.

Kurikulum Merdeka semakin menegaskan pentingnya pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Oleh karena itu, rapor lebih menekankan deskripsi capaian pembelajaran dan perkembangan kompetensi siswa daripada sekadar menunjukkan posisi mereka dibandingkan teman-temannya.

Apakah Meniru Sistem Pendidikan Negara Lain?

Kebijakan ini memang memiliki kesamaan dengan praktik pendidikan di sejumlah negara maju seperti Finlandia, Kanada, dan Selandia Baru yang tidak menjadikan ranking sebagai fokus utama dalam laporan hasil belajar siswa.

Namun demikian, penghapusan ranking di Indonesia bukan sekadar meniru negara lain. Kebijakan tersebut lahir dari kebutuhan untuk menciptakan sistem pendidikan yang lebih adil, manusiawi, dan mampu mengembangkan seluruh potensi peserta didik sesuai tujuan pendidikan nasional.

Apakah Ranking Benar-Benar Hilang?

Meskipun tidak dicantumkan dalam rapor, bukan berarti sekolah tidak dapat mengetahui urutan prestasi akademik siswa. Dalam beberapa keperluan tertentu, seperti pemilihan peserta lomba, pemberian penghargaan akademik, atau seleksi khusus, sekolah tetap dapat mengolah data nilai untuk menentukan siswa dengan capaian terbaik.

Dengan kata lain, yang dihilangkan adalah penyajian ranking dalam rapor, bukan kemampuan sekolah untuk melakukan pemetaan prestasi siswa.

Penutup

Hilangnya ranking dari rapor sejak Kurikulum 2013 hingga Kurikulum Merdeka merupakan bagian dari perubahan cara pandang terhadap pendidikan. Jika dahulu keberhasilan siswa sering diukur dari posisi mereka di dalam kelas, kini fokusnya bergeser pada sejauh mana siswa berkembang, memahami materi, membangun karakter, dan mengoptimalkan potensi yang dimilikinya.

Melalui pendekatan ini, diharapkan setiap anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, berkarakter, dan mampu berkembang sesuai bakat serta minatnya masing-masing. Pendidikan tidak lagi hanya mencari siapa yang paling unggul, tetapi juga memastikan setiap peserta didik memperoleh kesempatan untuk mencapai versi terbaik dari dirinya.

Prestasi siswa-siswi SDN Cadasleueur tahun 2025/2026

Berikut ini ditampilkan data prestasi yang berhasil diraih oleh siswa siswi sdn cadasleueur pada tahun pelajaran 2025/2026.








Solusi Agar Anak tidak tumbuh jadi budak atau pesuruh

 


tidak ada yang salah jika kita atau anak kita kelak menjadi seorang karyawan, pegawai, buruh, atau pun hal lain sejenisnya karena memang tidak mungkin semua manusia jadi pimpinan, bos, investor, CEO, dan semacamnya. namun sebagai orang tua atau pendidik, kita tetap bisa memasukkan prinsip-prinsip pedagogi kritis dan kemerdekaan berpikir di rumah, bahkan jika anak masih menempuh jalur sekolah formal. Tujuannya adalah memberikan "penawar racun" agar anak tidak tumbuh menjadi robot yang hanya patuh pada sistem.

Berikut adalah beberapa cara praktis untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari:

1. Ubah Gaya Bertanya (Terapkan Problem-Posing)

Di sekolah, anak terbiasa menjawab pertanyaan yang hanya punya satu jawaban benar (sistem menghafal). Di rumah, ajak mereka melihat realitas dengan pertanyaan terbuka yang melatih nalar kritis.

  • Jangan hanya tanya: "Dapat nilai berapa tadi di sekolah?" atau "Sudah hafal bab ini belum?"
  • Coba tanya: "Tadi di sekolah ada aturan yang menurutmu aneh atau enggak adil enggak? Kenapa?" atau "Menurutmu, kenapa ya di lampu merah tadi banyak anak kecil yang jualan koran bukannya sekolah?"
  • Tujuannya: Melatih anak untuk tidak menelan mentah-mentah realitas, melainkan mulai menganalisis struktur sosial di sekitarnya.

2. Dekonstruksi Fungsi Nilai dan Nilai Merah/rendah

Sekolah kapitalis mengajarkan bahwa nilai akademis adalah penentu harga diri dan masa depan seseorang. Tugas orang tua di rumah adalah memutus narasi kecemasan ini.

  • Jika anak mendapat nilai buruk, jangan dihukum atau dimarahi. Katakan: "Nilai ini cuma peta kecil yang menunjukkan bab mana yang belum kamu pahami, bukan ukuran kecerdasan atau kebaikan dirimu."
  • Jika anak mendapat nilai bagus, jangan dipuji berlebihan seolah nilai adalah segalanya. Fokuslah pada prosesnya: "Ibu senang melihat kamu penasaran dan berusaha keras kemarin, bukan cuma karena angka 100 ini."

3. Berikan Ruang Otonomi Nyata di Rumah (Demokratisasi Keluarga)

Anak-anak menghabiskan waktu di sekolah dengan diperintah: kapan harus duduk, kapan boleh bicara, kapan boleh ke toilet. Di rumah, kembalikan kedaulatan mereka.

  • Libatkan dalam Keputusan: Ajak anak berdiskusi saat menentukan menu makanan mingguan, pembagian tugas membersihkan rumah, atau tujuan liburan.
  • Hargai Argumen Mereka: Jika anak menolak melakukan sesuatu, dengarkan alasannya. Jangan gunakan tameng "Karena kamu anak kecil dan Ibu/Ayah bilang begitu!" (Ini adalah pola asuh otoriter yang melatih anak tunduk pada bos di masa depan). Jika argumen mereka logis, negosiasikan jalan tengah.

4. Fasilitasi Interest-Led Learning (Belajar Berbasis Minat) di Akhir Pekan

Gunakan waktu luang untuk menerapkan prinsip unschooling. Biarkan anak memegang kendali penuh atas apa yang ingin mereka pelajari tanpa intervensi kurikulum.

  • Jika anak sedang fanatik dengan dinosaurus, ruang angkasa, atau pemrograman game, dukung total. Belikan buku, tonton dokumenter bersama, atau ajak ke museum/bengkel terkait.
  • Jangan paksa ada target atau ujian setelahnya. Biarkan mereka belajar murni karena rasa ingin tahu (curiosity), bukan karena takut dihukum atau demi mengejar sertifikat.

5. Ajarkan Literasi Keuangan Riil dan "Kecerdasan Jalanan"

Sekolah melatih anak menjadi pekerja yang menukar waktu dengan uang. Di rumah, ajarkan mereka cara kerja sistem ekonomi yang sebenarnya.

  • Ajak mereka berbelanja dan hitung nilai barang, ajarkan konsep dasar menabung, investasi sederhana, atau bagaimana sebuah bisnis mendapatkan keuntungan.
  • Jika mereka membuat kesalahan (misal: merusakkan mainan karena ceroboh), jangan langsung diganti. Ajak mereka berpikir bagaimana cara memperbaikinya atau mengumpulkan uang saku untuk membelinya lagi. Ini melatih kemandirian dan mental pemecah masalah (problem solver).

Prinsip Utamanya:

Rumah harus menjadi tempat yang aman untuk membuat kesalahan dan bebas dari standarisasi. Dengan begitu, sekolah formal hanya akan menjadi tempat mereka mencari "legalitas" (ijazah), sementara karakter, kedalaman berpikir, dan kemerdekaan jiwa mereka tetap terbentuk di rumah.

Mengapa Tahun Baru Hijriyah Menjadi Tahun Baru yang Cenderung Terlupakan dan Sepi Dibandingkan Tahun Baru Masehi?

 


Setiap tahun, umat Islam memasuki pergantian tahun dalam kalender Hijriyah pada tanggal 1 Muharram. Secara historis dan spiritual, momen ini memiliki makna yang sangat penting karena menandai awal kalender Islam yang dihitung sejak peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Namun, jika dibandingkan dengan perayaan Tahun Baru Masehi yang jatuh pada 1 Januari, suasana Tahun Baru Hijriyah sering kali terasa lebih sepi dan kurang mendapat perhatian dari masyarakat luas.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan: mengapa Tahun Baru Hijriyah cenderung menjadi tahun baru yang terlupakan?

Dominasi Kalender Masehi dalam Kehidupan Modern

Salah satu faktor utama adalah dominasi kalender Masehi dalam hampir seluruh aspek kehidupan modern. Kalender Masehi digunakan dalam administrasi pemerintahan, pendidikan, bisnis, perbankan, hingga teknologi digital. Jadwal kerja, tahun ajaran, laporan keuangan, dan berbagai aktivitas sehari-hari mengacu pada kalender ini.

Karena digunakan secara terus-menerus, masyarakat memiliki kedekatan yang lebih kuat dengan pergantian tahun Masehi. Sebaliknya, kalender Hijriyah lebih banyak digunakan untuk kepentingan ibadah dan penentuan hari-hari besar Islam seperti Ramadan, Idul Fitri, Idul Adha, dan peringatan keagamaan lainnya.

Tidak Ada Tradisi Perayaan Besar yang Mengakar

Tahun Baru Masehi identik dengan berbagai perayaan meriah seperti pesta kembang api, konser musik, pesta keluarga, hingga liburan panjang. Tradisi-tradisi tersebut telah berkembang selama puluhan bahkan ratusan tahun dan menjadi bagian dari budaya populer global.

Di sisi lain, Tahun Baru Hijriyah tidak memiliki tradisi perayaan yang seragam dan spektakuler. Dalam ajaran Islam, pergantian tahun lebih dipahami sebagai momentum refleksi diri, evaluasi kehidupan, dan peningkatan kualitas ibadah. Karena sifatnya yang lebih spiritual daripada seremonial, suasananya sering kali tidak semeriah Tahun Baru Masehi.

Kurangnya Pemahaman tentang Makna Hijrah

Banyak masyarakat mengenal Tahun Baru Hijriyah hanya sebagai hari libur nasional tanpa memahami makna mendalam di baliknya. Padahal, peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW merupakan titik balik penting dalam sejarah Islam yang mengajarkan keberanian, pengorbanan, optimisme, dan perubahan menuju kondisi yang lebih baik.

Ketika makna historis dan spiritual ini kurang dipahami, peringatan Tahun Baru Hijriyah menjadi sekadar pergantian tanggal tanpa resonansi emosional yang kuat di tengah masyarakat.

Pengaruh Budaya Global dan Media

Media massa dan media sosial memiliki peran besar dalam membentuk perhatian publik. Menjelang Tahun Baru Masehi, masyarakat disuguhi hitung mundur, promosi wisata, konser, diskon besar-besaran, hingga berbagai program hiburan. Akibatnya, suasana pergantian tahun terasa begitu masif dan sulit dihindari.

Sebaliknya, pemberitaan mengenai Tahun Baru Hijriyah sering kali lebih terbatas. Liputan biasanya berfokus pada kegiatan keagamaan, ceramah, atau pawai tertentu yang jangkauannya tidak sebesar perayaan Tahun Baru Masehi. Perbedaan eksposur ini membuat perhatian publik terhadap Tahun Baru Hijriyah menjadi lebih kecil.

Pergeseran Nilai dalam Masyarakat

Modernisasi dan globalisasi turut memengaruhi cara masyarakat memandang berbagai peristiwa penting. Banyak orang lebih menantikan momen yang bersifat hiburan dan rekreasi daripada momen refleksi spiritual. Akibatnya, Tahun Baru Masehi yang menawarkan suasana meriah lebih mudah menarik perhatian dibandingkan Tahun Baru Hijriyah yang mengajak masyarakat untuk merenung dan memperbaiki diri.

Perlukah Tahun Baru Hijriyah Dirayakan Secara Meriah?

Pertanyaan ini sering muncul dalam diskusi masyarakat. Pada dasarnya, esensi Tahun Baru Hijriyah bukanlah kemeriahan, melainkan penghayatan terhadap nilai-nilai hijrah. Yang lebih penting bukan seberapa besar perayaannya, melainkan sejauh mana momen tersebut mendorong perubahan positif dalam kehidupan individu maupun masyarakat.

Karena itu, upaya menghidupkan Tahun Baru Hijriyah tidak harus dilakukan dengan pesta besar. Kegiatan seperti kajian sejarah Islam, refleksi diri, program sosial, santunan, atau gerakan memperbaiki kualitas ibadah dapat menjadi cara yang lebih sesuai dengan semangat hijrah.

Penutup

Tahun Baru Hijriyah cenderung terasa sepi dan terlupakan bukan karena kurang penting, melainkan karena posisinya yang berbeda dari Tahun Baru Masehi dalam kehidupan masyarakat modern. Dominasi kalender Masehi, pengaruh budaya global, minimnya pemahaman tentang makna hijrah, serta karakter peringatannya yang lebih spiritual menjadi faktor utama yang menyebabkan perbedaan tersebut.

Meski tidak dirayakan dengan kemeriahan yang sama, Tahun Baru Hijriyah tetap memiliki nilai yang sangat besar bagi umat Islam. Momentum ini seharusnya menjadi kesempatan untuk melakukan evaluasi diri, memperkuat keimanan, dan menumbuhkan semangat perubahan ke arah yang lebih baik, sebagaimana makna hijrah yang diwariskan oleh Nabi Muhammad SAW.

kemerdekaan berfikir dalam pendidikan landasan kurikulum merdeka dan merdeka belajar

 


Para pemikir radikal, sosiolog, dan kritikus yang memandang sekolah modern sebagai "pabrik tenaga kerja" tidak hanya melempar kritik, tetapi juga menawarkan solusi konkrit. Menurut mereka, mendidik anak seharusnya berfokus pada memanusiakan manusia, mengembalikan kemerdekaan berpikir, dan melepaskan diri dari standardisasi industri.

 Berikut adalah alternatif dan prinsip utama tentang bagaimana seharusnya anak dididik menurut pandangan mereka:

 1. Deschooling (Membubarkan Institusi Sekolah formal)

Ivan Illich menawarkan konsep Deschooling Society. Menurutnya, pendidikan harus dikembalikan ke komunitas, bukan dimonopoli oleh sekolah berbentuk bangunan fisik yang kaku.

 Jaringan Belajar (Learning Webs): Anak-anak seharusnya belajar lewat hubungan langsung dengan mentor atau ahli di bidang yang mereka sukai secara sukarela. Jika seorang anak tertarik pada pertukangan, mereka belajar langsung pada tukang kayu, bukan duduk di kelas mendengarkan teori.

 Akses Bebas ke Sumber Daya: Negara atau komunitas menyediakan perpustakaan, laboratorium, dan bengkel kerja yang bisa diakses anak kapan saja tanpa perlu ada kurikulum formal atau ujian.

 2. Pendidikan Hadap-Masalah (Pedagogi Kritis)

Filsuf pendidikan asal Brasil, Paulo Freire, dalam bukunya Pedagogy of the Oppressed (Pendidikan Kaum Tertindas), mengkritik sistem sekolah tradisional yang ia sebut sebagai Sistem Bank (Banking Concept of Education). Di sistem ini, guru "menabung" informasi ke kepala anak, dan anak pasif menerimanya.

 Freire menawarkan Pendidikan Hadap-Masalah (Problem-Posing Education):

 Anak tidak dicekoki hafalan, melainkan diajak berdialog melihat realitas sosial di sekitarnya.

 Anak dilatih berpikir kritis: Why (Mengapa kemiskinan terjadi?), How (Bagaimana sistem ini bekerja?), bukan sekadar What (Apa definisi dari regulasi ini?).

 Guru dan murid posisinya setara, bersama-sama belajar dan memecahkan masalah nyata di dunia.

 3. Gerakan Unschooling dan Self-Directed Education

Turunan modern dari kritik ini melahirkan gerakan Unschooling (yang dipopulerkan oleh John Holt). Prinsip utamanya adalah mempercayai insting alami anak untuk belajar.

 Belajar Berbasis Minat (Interest-Led Learning): Anak memegang kendali penuh atas apa, kapan, dan bagaimana mereka belajar. Orang tua bertindak sebagai fasilitator, bukan "mandor" yang mendikte jadwal.

 Bermain Bebas: Bagi anak usia dini, bermain tanpa struktur adalah cara terbaik mempelajari fisika (lewat balok), sosial (lewat interaksi), dan bahasa, tanpa perlu dipaksa duduk diam dan menulis di lembar kerja (LKS).

 4. Pendidikan Demokratis (Contoh: Sekolah Summerhill)

Jika anak harus tetap berkumpul dalam sebuah komunitas, para kritikus mendukung model Sekolah Demokratis seperti Summerhill School di Inggris atau Sudbury Valley School di AS.

 Kehadiran Sukarela: Anak-anak bebas memilih apakah mereka mau masuk kelas atau tidak pada hari itu. Jika mereka ingin bermain seharian di hutan, itu hak mereka.

 Tata Tertib Dibuat Bersama: Semua peraturan sekolah diputuskan lewat rapat bersama di mana suara satu anak kecil memiliki bobot yang sama dengan suara kepala sekolah. Ini mendidik anak menjadi warga negara yang setara dan kritis, bukan bawahan yang patuh pada bos.

 5. Fokus pada Literasi Finansial dan Kemandirian Nyata

Dari kubu Robert Kiyosaki dan para kritikus ekonomi, anak-anak seharusnya dididik di luar kurikulum akademis konvensional dengan fokus pada:

 Literasi Keuangan Riil: Mengajarkan bagaimana uang bekerja, manajemen aset, utang yang sehat, dan cara membangun bisnis sejak dini, bukan sekadar melatih mereka agar resume/CV-nya dilirik korporasi.

 Kecerdasan Jalanan (Street Smarts): Melatih mental tangguh menghadapi kegagalan, negosiasi, kreativitas, dan adaptasi—hal-hal yang justru sering kali "dimatikan" oleh sistem sekolah yang menghukum kesalahan dengan nilai merah.

 Intisari:

Menurut mereka, mendidik anak yang benar adalah dengan menjaga rasa ingin tahu alaminya tetap hidup, melatih kelenturan mental, dan mengajari mereka cara menginterogasi sistem, bukan cara tunduk padanya. Tujuan pendidikan adalah agar anak menjadi subjek (pemegang kendali) atas hidupnya sendiri, bukan menjadi objek (alat produksi) bagi kepentingan orang lain.

Ketika Ijazah Menjadi Jebakan: Menolak Narasi Pendidikan sebagai Pabrik Kapitalisme



Sudut pandang bahwa pendidikan modern merupakan "scam" (penipuan) atau sekadar pabrik untuk mencetak "budak kapitalis" sebenarnya bukan hal baru. Kritik radikal ini telah dibahas oleh banyak sosiolog, filsuf, dan pemikir ekonomi politik selama lebih dari satu abad.

 Secara garis besar, esensi dari kritik-kritik tersebut dapat dirangkum ke dalam beberapa poin argumen utama berikut:

 1. Sistem Kelas yang Kaku (Kurikulum Tersembunyi)

Banyak pemikir berargumen bahwa sekolah memiliki hidden curriculum (kurikulum tersembunyi). Sekolah tidak hanya mengajarkan matematika atau sejarah, tetapi secara halus melatih siswa untuk patuh pada hierarki.

Kepatuhan pada Bel: Jadwal yang diatur oleh bel sangat mirip dengan sistem sif di pabrik.

Standarisasi: Siswa dipaksa seragam dalam berpikir. Kreativitas yang terlalu liar sering kali dianggap sebagai pelanggaran atau keanehan. Ini dinilai sengaja dibentuk agar kelak mereka menjadi pekerja yang patuh dan mudah diatur oleh pemilik modal (kapitalis).

 2. Kritik Ivan Illich: Deschooling Society (Masyarakat Tanpa Sekolah)

Dalam bukunya yang terkenal, Deschooling Society (1971), filsuf Ivan Illich secara terang-terangan mengkritik institusi pendidikan modern. Menurutnya, sekolah telah mengalami komodifikasi.

 "Sekolah mengkomodifikasi pendidikan. Siswa diajari untuk mengonsumsi paket kurikulum, dan nilai akademis dijadikan alat ukur harga diri seseorang di pasar kerja."

 Illich berpendapat bahwa sekolah menjauhkan manusia dari hakikat belajar yang sebenarnya. Sekolah membuat masyarakat percaya bahwa seseorang hanya bisa sukses jika membeli "produk" bernama ijazah.

 3. Teori Reproduksi Sosial (Bowles & Gintis)

Dalam studi sosiologi marxis modern, Samuel Bowles dan Herbert Gintis (1976) menulis buku berjudul Schooling in Capitalist America. Mereka memperkenalkan Prinsip Korespondensi, yang menyatakan bahwa struktur di dalam sekolah mencerminkan (berkorespondensi dengan) struktur di tempat kerja kapitalis.

 Sekolah menggunakan hadiah eksternal (nilai/angka) agar siswa mau Belajar, sama seperti pabrik menggunakan upah agar buruh mau bekerja.

 Sekolah membagi siswa ke dalam jalur-jalur tertentu (kejuruan vs. akademik) yang melanggengkan ketimpangan kelas sosial, bukan menghapusnya.

 4. Jebakan Utang Pendidikan (Student Loan Scam)

Di era modern, terutama di negara-negara barat (dan mulai bergeser ke skema komersialisasi kampus di Indonesia), pendidikan tinggi dianggap sebagai penipuan finansial.

 Biaya kuliah melonjak jauh melampaui inflasi dan daya beli masyarakat.

 Mahasiswa dipaksa mengambil utang besar demi selembar ijazah.

 Dampaknya: Begitu lulus, mereka tidak punya pilihan selain menerima pekerjaan apa saja dengan gaji berapa saja demi melunasi utang tersebut. Kondisi ini memaksa mereka masuk ke dalam lingkaran setan menjadi pekerja yang dependen pada sistem kapitalis sejak usia muda.

 5. Pandangan Tokoh Kontemporer: Robert Kiyosaki

Dari perspektif literasi keuangan, penulis buku Rich Dad Poor Dad, Robert Kiyosaki, sering melontarkan kritik keras bahwa sekolah formal adalah jebakan. Menurutnya, sekolah sengaja dirancang untuk menciptakan pegawai (buruh/karyawan) dan bukan pemilik bisnis atau investor. Sekolah mengajarkan orang untuk "bekerja demi uang" bukan "membuat uang bekerja untuk mereka."

Kesimpulan Intisari Kritik:

Pihak yang setuju dengan narasi ini melihat bahwa institusi pendidikan telah bergeser dari tempat untuk memanusiakan manusia (mencari kebenaran dan kebijaksanaan) menjadi alat pencatat dan penyaring tenaga kerja (labor-screening tool) yang efisien bagi para pemilik modal.

Tangis Haru dan Sujud Syukur Warnai Pengumuman Kelulusan Kelas VI SDN Cadasleueur Tahun Ajaran 2025/2026


Bogor, 4 Juni 2026 – Suasana haru dan penuh rasa syukur menyelimuti kegiatan pengumuman kelulusan siswa kelas VI SDN Cadasleueur yang dilaksanakan pada Kamis, 4 Juni 2026. Tangis bahagia para siswa, orang tua, dan guru pecah saat hasil kelulusan resmi diumumkan.

Bertempat di lingkungan SDN Cadasleueur, seluruh siswa kelas VI dinyatakan lulus setelah menyelesaikan seluruh proses pembelajaran dan mengikuti berbagai bentuk penilaian selama enam tahun menempuh pendidikan dasar. Kabar tersebut disambut dengan penuh suka cita oleh seluruh warga sekolah.

Beberapa siswa tampak menitikkan air mata haru karena berhasil menyelesaikan pendidikan di sekolah yang telah menjadi tempat mereka belajar, bermain, dan meraih berbagai pengalaman berharga. Tidak sedikit pula orang tua yang turut terharu menyaksikan putra-putrinya mencapai salah satu tonggak penting dalam perjalanan pendidikan mereka.


Momen yang paling mengharukan terjadi ketika sejumlah siswa dan orang tua melakukan sujud syukur sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada Allah SWT atas keberhasilan yang telah diraih. Suasana penuh khidmat dan kebersamaan semakin terasa ketika para guru memberikan ucapan selamat serta motivasi kepada para lulusan untuk terus melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Kepala SDN Cadasleueur, Juju Juhaeriah, S.Pd., M.M., menyampaikan apresiasi kepada seluruh siswa atas kerja keras dan semangat belajar yang telah ditunjukkan selama menempuh pendidikan di SDN Cadasleueur. Beliau juga mengucapkan terima kasih kepada para orang tua dan guru yang telah memberikan dukungan dan pendampingan sehingga seluruh siswa dapat menyelesaikan pendidikan dengan baik.

“Kelulusan ini bukanlah akhir dari perjalanan belajar, melainkan awal untuk meraih cita-cita yang lebih tinggi. Teruslah belajar, berakhlak baik, dan membawa nama baik sekolah di mana pun berada,” pesannya.


Kegiatan pengumuman kelulusan berlangsung dengan tertib, sederhana, dan penuh makna. Momen tangis haru, pelukan hangat, serta sujud syukur menjadi kenangan indah yang akan selalu melekat dalam perjalanan para lulusan SDN Cadasleueur Tahun Ajaran 2025/2026.



Selamat kepada seluruh siswa kelas VI SDN Cadasleueur. Semoga sukses menempuh pendidikan pada jenjang berikutnya dan meraih cita-cita yang diimpikan.

Guru-Guru SDN Cadasleueur Turut Memeriahkan Hari Jadi Bogor ke-544 di Kp. Citalahab Nirmala

 


Nanggung, 3 Juni 2026 – Guru-guru SDN Cadasleueur turut berpartisipasi dan memeriahkan rangkaian kegiatan Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544 yang diselenggarakan di Kampung Citalahab Nirmala, Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, pada Rabu, 3 Juni 2026.

Kegiatan yang berlangsung meriah tersebut dihadiri oleh Bupati Bogor beserta jajaran pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan warga dari berbagai wilayah di Kabupaten Bogor. Kehadiran para guru SDN Cadasleueur merupakan bentuk dukungan terhadap upaya pelestarian budaya, penguatan kebersamaan masyarakat, serta partisipasi aktif dalam pembangunan daerah.

Dalam kegiatan tersebut, para guru mengikuti berbagai rangkaian acara yang telah disiapkan panitia, mulai dari penyambutan tamu, pertunjukan seni budaya, hingga kegiatan kebersamaan bersama masyarakat. Suasana penuh semangat dan kekeluargaan tampak mewarnai seluruh rangkaian peringatan Hari Jadi Bogor ke-544.

Kepala SDN Cadasleueur menyampaikan bahwa keikutsertaan guru-guru dalam kegiatan ini merupakan wujud kepedulian dan dukungan terhadap program pemerintah daerah serta sebagai sarana mempererat hubungan antara dunia pendidikan dan masyarakat.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap dapat menumbuhkan rasa cinta terhadap Kabupaten Bogor serta meningkatkan semangat kebersamaan dan gotong royong di lingkungan masyarakat,” ujarnya.

Peringatan Hari Jadi Bogor ke-544 menjadi momentum penting untuk mengenang sejarah Kabupaten Bogor sekaligus memperkuat komitmen seluruh elemen masyarakat dalam mewujudkan Bogor yang maju, harmonis, dan berkelanjutan.

Dengan penuh antusias, guru-guru SDN Cadasleueur mengikuti kegiatan hingga selesai dan berharap semangat Hari Jadi Bogor ke-544 dapat terus menginspirasi masyarakat untuk bersama-sama membangun Kabupaten Bogor yang lebih baik.

Humas SDN Cadasleueur
Rabu, 3 Juni 2026.

Menjelang HJB (Hari Jadi Bogor) ke-544 di Citalahab, Akses Jalan Mulai Diperbaiki

 



Nanggung, 1 Juni 2026 – Menjelang pelaksanaan peringatan Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544 yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 3 Juni 2026, di Kampung Citalahab, Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, aktivitas perbaikan jalan menuju lokasi acara mulai terlihat. Sejumlah titik jalan yang sebelumnya mengalami kerusakan kini mendapat penanganan guna memperlancar akses kendaraan dan tamu yang akan menghadiri kegiatan tersebut.

Perbaikan jalan ini disambut positif oleh masyarakat setempat. Warga menilai kondisi jalan yang lebih baik akan memberikan kenyamanan bagi pengguna jalan serta mendukung kelancaran pelaksanaan acara HJB yang diperkirakan akan dihadiri oleh berbagai unsur pemerintahan dan masyarakat.

"Kami tentu senang jalan diperbaiki. Selain untuk kegiatan HJB, masyarakat juga bisa merasakan manfaatnya dalam beraktivitas sehari-hari," ujar salah seorang warga Desa Malasari.

Namun demikian, di balik apresiasi tersebut, muncul pula sejumlah pandangan kritis dari masyarakat. Beberapa warga menilai perbaikan infrastruktur sering kali dilakukan menjelang kunjungan pejabat atau pelaksanaan acara besar saja. Kondisi ini dinilai menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur masih bersifat temporer dan belum dilakukan secara berkelanjutan.

Menurut warga, tidak sedikit ruas jalan yang sebelumnya telah diperbaiki kembali mengalami kerusakan dalam waktu relatif singkat. Hal tersebut diduga akibat kualitas pekerjaan yang kurang maksimal maupun minimnya pemeliharaan pasca-perbaikan.

"Harapan kami bukan hanya diperbaiki saat ada acara atau pejabat yang lewat. Jalan ini digunakan masyarakat setiap hari, sehingga perlu pembangunan yang benar-benar berkualitas dan tahan lama," ungkap warga lainnya.

Masyarakat berharap momentum peringatan HJB ke-544 dapat menjadi titik awal perhatian yang lebih serius terhadap pembangunan infrastruktur di wilayah Kecamatan Nanggung, khususnya daerah-daerah yang menjadi akses penting bagi aktivitas warga dan pengembangan potensi wisata alam di kawasan Malasari.

Dengan perbaikan yang sedang berlangsung, warga berharap akses menuju Kampung Citalahab dapat semakin baik dan memberikan manfaat jangka panjang, tidak hanya untuk menyukseskan peringatan Hari Jadi Bogor ke-544, tetapi juga untuk meningkatkan konektivitas dan kesejahteraan masyarakat setempat.

Guru SDN Cadasleueur Mengikuti Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026



Nanggung, 1 Juni 2026 – Guru-guru SDN Cadasleueur turut mengikuti Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila yang dilaksanakan di halaman Kantor Kecamatan Nanggung pada Senin, 1 Juni 2026. Kegiatan tersebut diikuti oleh unsur pemerintah kecamatan, instansi pendidikan, TNI, Polri, perangkat desa, serta berbagai elemen masyarakat di wilayah Kecamatan Nanggung.

Upacara berlangsung dengan khidmat dan penuh semangat kebangsaan. Seluruh peserta upacara mengikuti rangkaian kegiatan mulai dari pengibaran bendera Merah Putih, pembacaan teks Pancasila, pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, hingga penyampaian amanat pembina upacara.

Dalam amanatnya, pembina upacara mengajak seluruh peserta untuk terus mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa diharapkan dapat menjadi pedoman dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan di era modern.

Kehadiran guru-guru SDN Cadasleueur dalam kegiatan ini merupakan bentuk komitmen untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan karakter luhur kepada peserta didik. Melalui peringatan Hari Lahir Pancasila, para pendidik diharapkan dapat menjadi teladan dalam mengamalkan nilai-nilai persatuan, gotong royong, toleransi, dan cinta tanah air.

Kepala SDN Cadasleueur Juju Juhaeriah menyampaikan bahwa partisipasi guru dalam upacara Hari Lahir Pancasila merupakan wujud dukungan terhadap upaya pemerintah dalam memperkuat ideologi Pancasila di lingkungan pendidikan.

Kegiatan upacara berakhir dengan tertib dan lancar. Diharapkan momentum peringatan Hari Lahir Pancasila tahun 2026 ini semakin memperkokoh semangat persatuan dan kesatuan serta meningkatkan rasa cinta terhadap bangsa dan negara Indonesia.

Reporter: SDN Cadasleueur
Senin, 1 Juni 2026

Selamat Idul Adha 1447 H

 


SDN CADASLEUEUR MENGUCAPKAN "Selamat Hari Raya Idul Adha! Ingat, yang dikorbankan itu sapi atau kambing, bukan perasaan ya. Dan yang dibakar itu sate, bukan kenangan masa lalu. Selamat makan-makan enak!"

SDN Cadasleueur Berjaya di Ajang OTRAD 2026, Sabet Juara Sumpitan dan Dagongan


NANGGUNG – Prestasi membanggakan ditorehkan oleh siswa-siswi SDN Cadasleueur dalam ajang Lomba Olahraga Tradisional (OTRAD) tingkat Kecamatan Nanggung yang digelar pada Selasa, 12 Mei 2026. Dalam kompetisi yang berlangsung sengit tersebut, SDN Cadasleueur berhasil membawa pulang dua trofi sekaligus.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Badan Pembina Olahraga Pelajar Seluruh Indonesia (BAPOPSI) Kecamatan Nanggung ini merupakan agenda tahunan untuk melestarikan budaya bangsa melalui olahraga. Tercatat, sebanyak 40 Sekolah Dasar di seluruh wilayah Kecamatan Nanggung turut berpartisipasi mengirimkan atlet-atlet terbaik mereka.


Dominasi di Cabang Sumpitan


Kejutan manis datang dari cabang olahraga Sumpitan, di mana perwakilan dari SDN Cadasleueur yaitu Aqil shirooj, Azril Sapalah, dan Dwi Cantika Putri berhasil tampil konsentrasi dan akurat. Berkat ketenangan dan latihan yang disiplin, mereka sukses mengungguli puluhan sekolah lainnya dan berhak menyandang gelar Juara 1

Perjuangan Tangguh di Dagongan

Tak hanya di cabang Sumpitan, tim putra SDN Cadasleueur juga menunjukkan kekuatan fisik dan kekompakan yang luar biasa di cabang Dagongan Putra. Setelah melewati beberapa babak penyisihan yang melelahkan, tim ini yang terdiri dari Akbar Pratama, Zaini Akmal, Riki Awaludi, Raden Prabu, Rasya Virzha, dan Akil Habib akhirnya berhasil mengamankan posisi sebagai Juara 3.



"Ini adalah hasil kerja keras anak-anak dan dukungan penuh dari guru serta orang tua. Bersaing dengan 40 sekolah lainnya tentu tidak mudah, namun semangat anak-anak terbukti mampu membuahkan hasil," ujar  Bu Yeni, salah satu perwakilan guru SDN Cadasleueur di lokasi kegiatan.


Pihak BAPOPSI Kecamatan Nanggung berharap kegiatan ini tidak hanya sekadar mencari pemenang, tetapi juga menjadi sarana bagi generasi muda untuk lebih mencintai dan melestarikan olahraga tradisional Indonesia agar tidak tergerus oleh zaman.

Dengan keberhasilan ini, SDN Cadasleueur membuktikan bahwa sekolah mereka memiliki potensi besar dalam bidang olahraga non-akademik, sekaligus mempererat sportivitas antar-pelajar se-Kecamatan Nanggung.



Followers

Kegiatan (48) Berita (34) Galeri (26) Artikel (12) Kepsek (9) Pengawas (4) Pengumuman (4) Prestasi (4) Tips (4) Pramuka (3)